Pergulatan Nurani dari Kapal Pesiar

Oleh: Febrie Hastiyanto*

Kami, sebagai TKI di kapal pesiar, menjalani hidup dg 3D (Dirty, Dangerous, Difficult).

Kami, sebagai TKI di kapal pesiar, menjalani hidup dg 3D (Dirty, Dangerous, Difficult).

Sekuel ketiga—kalau boleh disebut begitu—dari seri Trilogi Kisah-Kisah dari Kapal Pesiar semakin mengukuhkan Hartono Rakiman sebagai penulis yang paling concern dengan isu-isu kapal pesiar. Tak banyak penulis buku mengenai kapal pesiar, dan Hartono Rakiman salah satu diantara penulis yang tak banyak itu. Pengalaman pibadinya yang pernah bekerja di kapal pesiar ditambah kemampuannya menuangkan cerita-cerita tersebut dalam memoar yang enak dibaca membuat pembaca seolah hadir langsung di dalam kapal pesiar yang sedang mengarungi samudera. Bukan sebagai wisatawan alias turis, tetapi sebagai pekerja atau kru kapal pesiar. Sudut pandang Trilogi Kapal Pesiar—Mabuk Dolar di Kapal Pesiar: Kisah-Kisah Para Pemburu Dolar, Illegal Alien: Kisah Petualangan Imigran Gelap di Amerika Serikat dan yang terbaru Dilema: Kisah 2 Dunia dari Kapal Pesiar—yang bertutur dari perspektif pekerja dan bukan wisatawan sudah merupakan daya pikat tersendiri. Ditambah dengan gaya bertutur yang detail mampu menggambarkan apa saja hal-hal yang perlu dan patut diketahui pembaca di darat. Tak salah kalau trilogi ini dilanjutkan menjadi tetralogi atau pentalogi kapal pesiar. Sungguh, kiranya masih banyak hal-hal yang tak diketahui pembaca di darat, bahkan tak diduga pembaca di darat terjadi di kapal pesiar.

Lalu apa sesungguhnya kekuatan Trilogi Kapal Pesiar setelah tulisan ini dibuka dengan puja-puji? Kisah-kisah mengenai kehidupan pelaut yang bebas—termasuk perilaku seksual, royal, “navy-navy”, maupun spirit-spirit positif macam kerja keras, semangat untuk mengubah nasib, kerinduan pada keluarga di tanah air yang terimpit dalam jangka waktu yang lama sesungguhnya merupakan kisah-kisah yang kurang lebih dapat dibayangkan pembaca di darat. Bagi saya kisah yang tak terbayangkan sebelumnya sebagai pembaca di darat misalnya cerita bagaimana pekerja di kapal pesiar melakukan ibadah—sebut saja sebagai muslim, penganut agama terbesar di tanah air. Bagaimana suasana hari raya dirayakan dengan kesederhanaan di sela-sela tugas sebagai kru kapal pesiar. Soal kiblat yang berubah-ubah sesuai laju kapal hingga tak heran bila posisi imam sholat bisa jadi persis berada di pintu. Begitu juga keikhlasan kru-kru kapal pesiar muslim untuk menjaga puasanya dalam kondisi geografis maupun klimatologis yang jauh berbeda dengan kondisi yang biasa kita temui di tanah air. Saya membayangkan semangat kru-kru kapal pesiar dalam beragama di laut sungguh heroik sekaligus romantik.

Kisah lain yang menggoda saya adalah aktivitas kru-kru yang masih sempat-sempatnya menampilkan pertunjukan—semacam kabaret oleh kru dari masing-masing negara. Pertunjukan seni—lagi-lagi di sela-sela kesibukan sebagai kru—sungguh mengharukan bagi pembaca di darat. Betapa kru-kru kapal pesiar sekaligus menjadi duta budaya “amatiran.” Meskipun amatir, saya percaya semangat yang hendak dibagi kru-kru kapal pesiar tak kalah dengan duta budaya “profesional.” Masih soal budaya, kisah-kisah gegar budaya (culture shock maupun culture lag) juga menarik untuk diketahui. Soal budaya mengapresiasi sekaligus budaya kritik, soal makan hingga—lagi-lagi—soal syahwat memang menjadi pembeda budaya barat dan budaya timur. Meskipun berbeda, saya kira kita semua sepakat bahwa hal itu bukan untuk dibeda-bedakan, melainkan untuk diketahui dan dipahami.

*Kontributor Rumah Baca

About mashar

Adventure, travelling, photography, painting, writing, reading. Contact: mashar67@yahoo.com
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s